Tampilkan postingan dengan label education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label education. Tampilkan semua postingan

Keren Nih! Dua Siswa SMK Pekalongan Ciptakan Alat Tambal Ban Portabel

Jiwa Merdeka, Pekalongan - Ban bocor? Kejadian ini kerap merepotkan pengguna sepeda motor. Mencari tukang tambal ban jadi masalah tersendiri, belum lagi menunggu waktu lama untuk menambalnya.

Permasalahan itulah yang mendorong dua siswa SMK Negeri 1 Kedungwuni, Pekalongan, Jawa Tengah, untuk mencari cara praktis dan mudah menambal ban.

Alfan Alvian dan Iqbal Maulana, kedua siswa itu, membuat alat penambalan portabel yang dinamakan Tyre Press. Selain bisa dibawa ke mana-mana, dengan alat ini pekerjaan melapis ban bocor tidak lebih dari sepuluh menit.

Ditemui Kompas.com di sekolahnya, Sabtu (15/10/2016), kedua siswa ini memaparkan tentang dua alat sederhana yang digunakan pada alat tersebut.

Alat utama berupa rangkaian besi berbentuk seperti hurup P. Di bagian bawahnya terdapat tuas untuk memutar besi berulir yang menjepit ban.

Alat lainnya berupa pipa selang untuk memompa ban, kertas, karet tambal, serta alat penjepit ban.

Semua peralatan itu dapat ditaruh di bawah jok sepeda motor.

Alvian mengatakan, setelah ban dalam dikeluarkan dengan pencongkel, titik bocor ditandai dengan paku atau lidi.

"Setelah itu, proses penambalan pun dimulai dengan melakukan penutupan lubang dengan karet yang lengket," kata Alvian.

Selanjutnya, karet penambal ban itu dipanasi. Bukan dengan cara dibakar seperti pada tukang tambal ban, melainkan dengan panas pada knalpot. Jika knalpot kurang panas, maka sepeda motor harus dihidupkan.

"Pake alat Tyre Press ditempelkan ke leher knalpot cukup lima menit. Tyre Press berguna untuk menjepit ban dengan leher knalpot," kata Alvian.

Setelah selesai, pemompaan ban hanya membutuhkan sebuah selang yang dibuat sedemikian rupa. Ujung dimasukkan ke lubang knalpot, sedangkan ujung satunya disambungkan ke lubang pentil ban.

Guru SMK Negeri 1 Kedungwwuni, Rafaul Zamzami, selaku instruktur mengatakan bahwa kesulitan awal pada cara ini adalah menemukan alat untuk memompa ban.

Setelah menciptakan alat tersebut, kini ia bersama pihak sekolah siap bekerja sama dengan pihak mana pun untuk memproduksi massal alat tersebut.

"Ini lebih praktis dan ekonomis, penjepitnya bisa digunakan di model sepeda motor apa saja," kata dia. (Sumber: Kompas.com).

Menegangkan! Wanita Ini Selamatkan 12 Siswa dari Bus Terbakar


Jiwa Merdeka, Maryland - Seorang wanita di Maryland, Amerika Serikat (AS), dijuluki pahlawan karena menyelamatkan 20 siswa Sekolah Dasar (SD) dari bus sekolah yang terbakar. Wanita ini mengevakuasi anak-anak itu satu per satu dan nekat menembus api untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal.

Seperti dilansir media AS, ABC News, Kamis (15/9/2016), Reneita Smith yang merupakan pengemudi bus sekolah di Maryland bertindak cepat dengan mengevakuasi seluruh anak-anak yang ada di dalam, di tengah asap pekat dan api yang berkobar. Smith melakukan semuanya seorang diri.

Dituturkan otoritas Prince George's County, bahwa petugas pemadam mendapat laporan ada bus sekolah terbakar di sebuah lokasi dekat College Park pada Senin (12/9) sore waktu setempat. Rekaman kamera yang ada di dasbor mobil polisi menunjukkan besarnya api yang membakar bus sekolah warna kuning tersebut. Asap hitam pekat membubung keluar dari dalam bus.

Seluruh siswa dari Sekolah Dasar Glenarden Woods yang ada di dalam bus telah dievakuasi dan tidak ada yang mengalami luka-luka sedikitpun. Seorang saksi mata di lokasi menyebut, seorang wanita sendirian menyelamatkan total 20 anak dari bus yang terbakar. 

Wanita itu adalah Smith yang merupakan pengemudi bus tersebut. Fazlul Kabir yang berusaha membantu ketika menyadari ada kebakaran bus sekolah, melihat langsung bagaimana Smith dengan berani mengevakuasi anak-anak itu satu per satu.

"Reneita membawa setiap anak dari 20 anak keluar dari bus satu per satu," tutur Kabir.

"Bus itu benar-benar habis dilalap api. Tanpanya (Smith), anak-anak sekolah itu tidak akan selamat. ... Dia masuk ke dalam bus untuk terakhir kali. Dia masuk ke dalam dan memeriksa setiap tempat duduk untuk melihat apakah ada siswa yang tertinggal. ... Itu bus yang cukup panjang. Bukan bus kecil. Dia memeriksa apakah semua orang sudah keluar dan tidak ada yang di dalam. ... Dia sungguh berani," imbuhnya.

Menurut Kabir, Smith menolak meninggalkan bus hingga dia yakini semua anak selamat. "Itu menjadi tugas saya untuk menyelamatkan mereka. Saya seorang ibu dari dua anak," tutur Smith seperti dikutip Kabir, yang sempat mengobrol dengannya.

Penyebab terbakarnya bus sekolah itu belum diketahui pasti. Namun otoritas setempat menyebut, api pertama muncul dari dekat roda bus bagian belakang dan menyebar ke bagian lain.

"Ketik saya mengemudikan mereka, kalian menjadi anak-anak saya hingga saya menyerahkan kalian kepada orangtua kandung kalian. Saya harus memperlakukan setiap anak dengan kasih sayang, sama seperti seorang ibu memperlakukan anaknya sendiri. Itu yang saya lakukan. Itu juga yang saya harap dilakukan setiap manusia terhadap anak manapun," tandas Smith kepada ABC News. (Sumber: detik.com).

Di Tangan Mahasiswa Kreatif Ini Kulit Pisang Disulap Menjadi Kerupuk

 

Jiwa Merdeka, - Kulit pisang biasanya terbuang dan akhirnya menjadi sampah. Namun, oleh 10 mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya Lampung, "sampah" ini justru diolah menjadi penganan ringan dan lezat berupa kerupuk kulit pisang atau "Kusang".

Mereka adalah Ganda Syahertian R, M Indrawan Zikrillah, Mutia, Imelda Intan P,  I Komang Reka S, Rosma Wati, Eka Prabawanti, Desi Septiani, Muhammad Mahbub, dan Vincencia YH,

Ganda di Bandarlampung, Senin (12/9/2016) mengatakan, ide kreatif tersebut muncul ketika mereka menjalankan Program Kerja Pengabdian Masyarakat (PKPM) di Pekon Tambahrejo Barat, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu pada 5 Agustus hingga 5 September lalu.

Menurut dia, Pekon Tambahrejo Barat memiliki potensi hasil perkebunan buah pisang yang cukup melimpah. Masyarakat sekitar memanfaatkan buah tersebut dengan dijual secara langsung maupun diolah menjadi keripik dan penganan lainnya, sedangkan kulitnya terbuang dan menjadi sampah.

"Padahal, kulit pisang ternyata memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi tubuh di antaranya protein, kalsium, zat besi, fosfor, vitamin B, dan C. Karena itu, kami berinisiatif mengolah kulit pisang menjadi kerupuk," ujarnya.

Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika IBI Darmajaya itu menjelaskan cara pembuatan kerupuk kulit pisang itu.

Pertama, pengupasan kulit pisang dan pencucian. Lalu, kulit pisang direndam air kapur selama 20 menit untuk menghilangkan getahnya.

Kemudian kulit pisang dikukus, dilanjutkan dengan penghalusan, pencampuran tepung, dan bumbu lalu dicetak.

Hasil cetakan kerupuk kulit pisang dijemur atau dioven untuk menghilangkan kadar airnya agar renyah saat digoreng. Setelah digoreng, kerupuk dikemas dan dilengkapi label yang didesain menarik. Produk ini dijual seharga Rp 10.000 per 250 gram.

"Kami telah melatih ibu-ibu anggota PKK cara pembuatan produk ini. Tak hanya itu, kami juga membekali masyarakat Pekon Tambahrejo Barat dengan pelatihan kewirausahaan, manajemen keuangan, dan pengenalan e-Commerce," kata dia.

Ia berharap masyarakat bisa termotivasi untuk berwirausaha dengan produk kerupuk kulit pisang yang bisa menjadi oleh-oleh khas Pekan Tambahrejo Barat dan dapat dipromosikan secara online untuk memperluas pangsa pasar.

Dosen Pembimbing Lapangan PKPM IBI Darmajaya Linda Septarina MM mengapresiasi ide kreatif mahasiswanya tersebut.

Ia menerangkan, IBI Darmajaya secara rutin menyelenggarakan PKPM setiap semester dengan tujuan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh proses belajar, dan pengalaman berinteraksi, bersosialisasi di tengah masyarakat serta berbagi ilmu yang dimiliki dari perkuliahan kepada masyarakat.

"Produk Kusang yakni kerupuk kulit pisang itu menjadi salah satu inovasi produk ekonomi kreatif yang dapat memajukan usaha kecil menengah di Pekon Tambahrejo Barat. Semoga ide usaha ini bisa terus dilanjutkan desa itu untuk membentuk masyarakat yang mandiri, kreatif, paham IT, dan sejahtera," katanya. (Sumber: Kompas.com).